Cerita Dewasa Percintaan Dengan Binik Si Akang Bakso
Pada dasarnya, gua ini orang yang senang bergaul. Gua orang
yang gemar berada dalam sebuah komunitas atau perkumpulan. Baik yang positif
(apalagi) yang rada negative. Hehe.
Gua ini orangnya supel. Suka perempuan~ Poker Online
Tapi, seperti halnya kebanyakan masyarakat urban, masyarakat
kelas menengah ngehek, gua justru luput menjalin hubungan dengan tetangga
sekitar.
Gua gak tau siapa-siapa tetangga yang tinggal bahkan
disebelah rumah gua sendiri. Tapi sebetulnya, selain karena memang gua yang
kurang peduli juga karena sebelah rumah gua itu kontrakan rumah toko (ruko)
yang penghuninya sering berganti seiring musim yang sedang terjadi.
Kalo musim hujan, biasanya ruko diisi sama tukang bakso.
Kalo musim kemarau, diisi sama tukang cendol. Gua gak tau bakal diisi sama
tukang apa kalo di Indonesia ada musim salju. Besar kemungkinan diisi sama
tukang jamu.
Suatu hari, dirumah gua menggelar sebuah pertemuan yang
dihadiri ratusan orang. Karena rumah gua gak cukup untuk menampung ratusan
orang (rumah gua cuma cukup menampung 99 orang. Hehe) maka terpaksa harus
menggelar tiker sampai keluar rumah, yaitu jalanan komplek yang sekaligus
menjadi jalanan umum masyarakat sekitar menuju jalan raya utama.
Gua baru sampai rumah jam 8 malam dan cukup kaget melihat
rumah gua bak studio JKT48. Gua pikir omongan nyokap dipagi hari, “Nanti malem
ada acara dirumah..” cuma acara rutin macem pengajian atau arisan warga,
ternyata lebih dari pada itu.
Karena enggan, “permisi-permisi..” untuk masuk ke dalem
rumah, gua pun akhirnya menunggu acara selesai disebelah rumah. Diruko tukang
jamu, eh, ruko tukang bakso.
Satu jam berlalu sambil ngobrol ngalor-ngidul sama kang
bakso yang tau muka tapi tidak tau nama gua, begitu pun dengan gua sendiri.
Akhirnya kami pun berkenalan. Dan akhirnya kang bakso yang bernama Mas Mujiono
ini gua pake. Yakali!
Mas Muji, begitu biasa dia disapa, usianya hampir 50 tahun.
Dia baru punya satu anak perempuan, namanya Ria. Usianya tak lebih dari 10
tahun. Sedang lucu-lucunya. Waktu gua ngobrol sama Mas Muji, Ria beberapa kali
keluar masuk menggali perhatian gua yang sebelumnya, saat pertama kali melihat
dia, gua menggodanya. Anak kecil tau sendiri kalo digodain, maunya terus dan
terus.
Karena tak kuat menahan kencing, gua pun meminta izin Mas
Muji untuk pakai kamar mandinya. Mas Muji kemudian mempersilahkan gua setelah
sebelumnya masuk ke dalam. Besar kemungkinan dia sedang membersihkan kamar
mandinya agar “layak dipinjam”.
Ruko Mas Muji ini memiliki tiga ruangan/petak. Petak pertama
tempatnya berjualan, petak kedua kamar tidur, dan petak terakhir dapur serta
kamar mandi. Lebarnya 4 meter dan panjang 10 meter. Yang berminat ngontrak
silahkan pm. Lah!
Saat masuk kedalam, menuju kamar mandi, ada istri Mas Muji,
sedang menonton tv. Karena gua diantar Mas Muji, gua pun hanya sepintas lalu
melihat istrinya yang sedang ‘diusel-usel’ sama Ria.
Setelah selesai buang hajat, (yap, abis kencing, mendadak
gua mau boker) gua pun keluar kamar mandi. Saat baru saja keluar dari area
dapur memasuki area kamar tidur, Ria (kembali) ngajak bercanda. Dia sembunyi
dibalik tembok, kemudian seperti seolah-olah mengagetkan gua sembari memeluk
sekitaran kaki dan paha gua sambil tertawa cekakakan.
Mas Muji yang sedang melayani pembeli terdengar
memperingatkan buah hatinya itu untuk tidak mengganggu. Tapi apakah gua merasa
terganggu? Tentu tidak. Kejadian itu gua manfaatkan untuk melihat dengan seksama
sosok istri Mas Muji.
“Wow..” Gerak mulut gua saat melihatnya. Istri Mas Muji
kemudian meminta Ria untuk kembali anteng atau duduk dikasur. Gua sempat
tersenyum dan menganggukkan kepala saat saling menatap dengan istri Mas Muji.
Dia pun balas tersenyum dan mengangguk.
Mas Muji ini sepertinya punya aji-ajian dari mbah dukun.
Karena kalo dicari alasan logis perempuan muda, cantik, dan bahenol macam
istrinya ini mau ‘diajak’ susah menjalani hidup sama dia, gua gak nemuin.
Istrinya Mas Muji ini cuantik, rek!
Untuk bersanding sama lelaki umur 50 tahunan yang berprofesi
sebagai kang bakso, istrinya malah bisa dibilang cantik banget.
Bukan bermaksud merendahkan tukang bakso, tapi wajarnya
perempuan cantik yang umurnya terpaut 20 tahun dengan seorang lelaki, cuma akan
menikah sama kang korupsi, kang tender, atau kang-kang lainnya yang punya harta
melimpah. Lah Mas Muji?
Nama istri Mas Muji ini tak lain dan tak bukan adalah Teh Dina.
Dia dipanggil “Teh” karena lahir dan besar di … Ambon. What? Hehe.
Teh Dina ini aseli Ciamis. Dia berkenalan dengan Mas Muji
diarea wisata pantai daerahnya. Selang sebulan perkelanannya itu, Teh Dina
dilamar dan kemudian dinikahi lalu dibojong Mas Muji ke Jakarta.
Ini yang tadi gua bilang kalo Mas Muji punya aji-ajian. Saat
berkenalan dan hendak mempersunting Teh Dina, usaha bakso Mas Muji hanyalah
sekala gerobak dorong yang mana tidak mempunyai pelanggan tetap. Mas Muji
mengumpulkan keuntungannya berdagang selama lebih dari 10 tahun untuk menikah
dan mencari peruntungan lebih besar dengan mengontrak toko, bahasa kitanya,
mangkal. Agar punya pelanggan tetap dan usaha berkembang.
Laba selama 10 tahun itulah modal Mas Muji menemui orang tua
Teh Dina dan memboyongnya ke ibu kota. Kalo Mas Muji gak punya aji-ajian,
rasanya orang tua Teh Dina enggan menyerahkan buah hatinya yang cantik nan
montok itu.
Sejarah singkat diatas, disponsori langsung oleh Mas Muji
sendiri (selain dugaan punya aji-ajian, tentu saja). Keabsahan dan
keakuratannya jelas terverifikasi serta dapat di pertanggungjawabkan. Ngok!
Tidak ada hal istimewa yang terjadi setelah perkenalan
dengan tetangga sebelah rumah gua ini. Semua kembali normal seperti biasanya,
seiring selesainya acara yang berlangsung dirumah gua. Janganlah kalian
berharap gua langsung doggiestlye sama Teh Dina disaat Mas Muji menggodok
gilingan baksonya, jangan! Semua berjalan seperti hari-hari sebelumnya.
Awal mula perkenalan langsung gua sama Teh Dina adalah saat
gua hendak keluar rumah. Waktu itu gua memarkirkan kendaraan disebelah rumah
atau lebih tepatnya didepan ruko Mas Muji karena lupa membawa pulpen. Ou, ouw.
Jangan sepelekan pulpen. Googling, ‘lost your pen’ untuk keterangan lebih
lanjut.
Karena masih pagi, warung Mas Muji masih tutup. Itu kenapa
gua santai aja parkir didepan rukonya. Sekembalinya mengambil pulpen, gua
ketemu Ria sama ibunya yang mau berangkat ke sekolah. Gua pun dengan tulus
ikhlas tanpa niat kotor mengajak mereka bareng.
Sebenarnya jarak antara area sekolahan sama rumah gua tidaklah
jauh-jauh amat. Bahkan tidak lebih dari 2 km. Tapi atas dasar perputaran
ekonomi, masyarakat sekitar rumah gua lebih memilih naik ojek ketimbang jalan
kaki. “Bagi-bagi rejeki..” begitu alasan dari keengganan berjalan kaki
masyarakat urban saat ini.
Teh Dina awalnya sempat menolak karena mungkin malu atau
segan. Tapi karena Ria langsung setuju dan naik ke dalam kendaraan, Teh Dina
tak bisa berbuat apa-apa.
Teh Dina tampak malu dan kaku, dia membatasi gerak Ria di
dalam mobil. Gua sesekali mnggoda Ria dan meng-gpp-kan usaha Teh Dina meredam
tingkah random anaknya. “Gpp, Mba.. Ih, si Mba, kaya gak pernah kecil aja..”
“Bapaknya mana? Masih tidur ya?” Kata gua, bertanya pada Ria
yang tampak antusias (mau gua sebut ‘norak’ ga tega) mencet-mencet dan melihat
monitor didepannya. Ria hanya menjawab sepintas lalu tanpa melihat kearah gua,
“Iya..” katanya.
Teh Dina yang menyadari tingkah anaknya menggelengkan kepala
dan tersenyum malu. Karena anaknya tak menggubris, gua pun lalu mengajak
berbicara ibunya. Eaaa. Kalo kata pepatah, “Habis jatuh tertiban janda”
Kalo kata orang jawa, malahane.
“Mba, siapa namanya?”
“Dina..”
“Aslinya juga satu daerah sama Mas Muji?”
“Oh, ngga. Saya mah dari Ciamis..”
“Ooh, urang sunda. Teteh, dong ya, manggilnya..”
“Hehe, iya..”
Lagi-lagi kalian jangan berharap gua langsung akan
meng-wot-kan Teh Dina didalam mobil. Karena tak lama dari obrolan perkenalan
diatas, kami tiba diarea sekolahan. Lagi pula masih ada anak dibawah umur.
Setelah kami berpisah semuanya kembali normal seperti
biasanya lagi. Tak ada niat kotor, tak ada pikiran mesum, meski bertemu dan
bertukar senyum dengan Teh Dina di hari-hari berikutnya.
Sampai akhirnya, awal mula kemesuman yang kalian
tunggu-tunggu hadir juga.
Gua kedatangan tamu dari jauh, seorang teman lama. Kolega
gua dalam usaha membawa cewe-cewe mabuk ke dalam gubuk.
Namanya Udjo. Saat ini dia sudah tinggal diluar kota bersama
istri, anak, dan ibu mertuanya. Sepaket.
Gua mengajak Udjo makan bakso ditempat Mas Muji karena
enggan menambah kemacetan ibu kota diakhir pekan. Entah karena akhir pekan atau
habis hujan, ruko Mas Muji kebanjiran pembeli.
“Alhamdulillah, ya Mas kebanjiran pembeli, bukan kebanjiran
air got!” Kata gua, coba mencairkan raut sibuk Mas Muji sehingga membuatnya
tertawa. Karena ramai, tentu saja, Teh Dina membantu suaminya melayani pembeli.
Saat itulah, Agen Bola Terpercaya Udjo memberi kode dengan menyolek-nyolek paha
gua. Semacam isyarat yang berbunyi, “Bro, Anjirr. Bininya cakep bener nih
tukang bakso!”
Gua hanya tersenyum dan sesekali menghentikan colekan Udjo.
“Lu kata gua sabun!” kata gua juga dalam bahasa isyarat. Isyarat laraswati~
Gua sama Udjo pun terlibat obrolan tanpa suara saat menunggu
baksonya datang. Kalian tau macam mana obrolan tanpa suara, kan? Taulah, pasti.
Haha.
Gua menyikut Udjo saat dia mulai ekstrim memandang Teh Dina
yang entah sedang mengambil kembalian atau mencuci mangkok. “Lah, elu mah enak,
mau ngeliatin dia pake muka mesum macam apa juga gak masalah. Gua, yang gak
enak!” Kata gua saat kembali berbincang dirumah.
“Tapi asli, bro. Itu tadi mbanya boleh tuh, asli. Lah,
lakinya aja udah aut, bro!”
“Aut?” Tanya gua, gak ngerti.
“Iya, aut. Tua, bego!” Jawabnya menjelaskan sambil tertawa.
Gua pun tertawa dan mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
Tapi Udjo seperti sudah dirasuki Setan mesum piaraan gua sendiri. Dia berkata
dengan begitu yakin, “Kalo gua jadi lu, bro. Gua sikat tuh bininya kang bakso!
Asli!”
“Sikat, ndasmu sempal!” Balas gua menyudahi kemesuman yang
ada.
Udjo benar-benar menginspirasi gua untuk menggagahi Teh Dina.
Dia seolah memberikan gua keyakinan kalo Teh Dina pasti mau diajak selingkuh.
“Asli, pasti mau!” begitu kata Udjo, dengan keyakinan tingkat wali.
Dan, Setan pun menyusun situasi mesum untuk gua.
Malam itu gua sampe rumah sudah sangat larut, sekitar jam
1an. Gua ngeliat Teh Dina sedang belanja diwarung klontong milik orang Madura,
yang pernah gua tanya, “Buka 24 jam ya pak?” Dijawab, “Ngga, cuma sampe pagi
kok..” Okee.. Makasih pak.. ~
Setelah markir kendaraan, gua bergegas ke warung klontong
itu yang jaraknya tak jauh dari rumah gua.
“Eh, Teh Dina.. Belum tidur, Teh?”
“Oh, iyaa..” Jawabnya malas. Duh, gak ada peluang nih, batin
gua.
“Beli apaan, Teh..” Tanya gua lagi.
“Hah? Ituh, tau nih, bapaknya Ria. Minta makan mie..”
Jawabnya setengah terkejut. Teh Dina tampak murung dan melamun. Gua
memandanginya dengan seksama. Baru ngeliatin dia aja, dada gua udah berdebar.
Kaki gua gemeter. Dan, yap! Setan berbisik, “tuh bos, dia nyebut Mas Muji
“Bapaknya Ria” bos, bukan “Suamiku”. Itu artinya bisa digoyang imannya, bos!
Lanjut, bos!”
“Beli apa mas?” Tanya Teh Dina? Bukan! Tanya orang Madura.
Membuyarkan lamunan gua menatap Teh Dina.
“Oh. Rokok pak.. Lupa saya. Sama kopi juga deh..”
“Seduh sekalian kopinya?”
“Gak usah, pak. Eh, tapi kalo airnya baru mendidih, boleh
deh..”
Tak disangka, Teh Dina ikut bicara.
“Jam segini malah mau ngopi, mas. Gak tidur emangnya?”
“Hehe, iya Teh. Masih ada kerjaan..”
“Emang, Mas kerjanya dimana?” Tanyanya lagi. Sambil bayar
gua ngomong, “Kenapa? Teteh mau ikut? Hehe.” dengan pandangan menggoda. Teh Dina
sesaat kaget, lalu tertawa.
“Duluan, Teh..” Kata gua, kemudian cabut dari warung. Teh Dina
masih menunggu belanjaannya. Dan tak lama, dia pun bergegas pulang.
Teh Dina cuma berjarak 3 langkah dibelakang gua. Gua sengaja
memperlambat jalan gua. Teh Dina dilema, antara mau duluin gua atau ikutan
jalan lambat. Dia milih opsi pertama, mungkin karena sudah ditungguin suaminya.
“Ayo, mas..” Katanya saat berada disebelah gua sesaat
mendahului.
“Oh, iya Teh..” Balas gua, sok cuek dengan akting mainan
gejet. Dalam hati bergejolak, “minta-ngga-minta-ngga..” Akhirnya gua memilih,
Ngga! Haha, cupu banget gua. Minta nomornya aja takut! Yaiyalah, takut. Bini
orang, sob!
Tapi Setan punya rencana lain. Saat berada didepan
ruko/rumah Teh Dina, dia kembali bersuara sebelum masuk. Seolah memberikan
kode, kalo dia mau kok diajak selingkuh.~
“Awas, Mas, kesandung! Hehe” godanya, yang melihat gua jalan
sambil menatap layar gejet. Gua sok cool, menengok kearahnya dan hanya
tersenyum. Ingin rasanya ngomong, “Teh, minta nomor teleponnya, Teh..” Tapi itu
namanya main kotor. Kemungkinan didenger Mas Muji besar, jadi gua urung
melakukannya.
Sampai kamar, gua menyusun rencana dan tidur. Kopi yang gua
beli dan udah diseduh, yang hanya menjadi kamuflase itu pun tak tersentuh.
“Biarlah jadi rejeki semut..” Batin gua, lalu tidur.
Pagi-pagi sekali gua bersiap menjalankan aksi. Hemm, seperti
apa aksi gua? Stay tune, gaes!
CERPEN DEWASA – BU DINA PART II
Pagi-pagi sekali gua sudah berada di area sekolahan tempat
Ria sekolah.
Setan benar-benar sudah menguasai diri gua. Entah dimana
keberadaan malaikat.
Rencananya, gua akan mulai mendekatkan diri sama Teh Dina
saat dia menunggu Ria. Dan, melihat umur Teh Dina yang gak tua-tua amat, dugaan
gua dia pasti gak akan ikut nunggu Ria sambil ngerumpi sama ibu-ibu lain yang
juga mengantar anaknya.
Tapi dugaan tinggal dugaan. Teh Dina ikut membaur dengan
ibu-ibu. Setan memberi celah dengan tidak adanya ibu-ibu yang berada di sekitar
Teh Dina yang gua kenal. Jadi, besar kemungkinan juga gak ada yang mengenal
gua. Tinggal kemudian gua mencari celah untuk “dilihat” Teh Dina.
Mulai dari bersiul kearah Teh Dina, sampai
melambai-lambaikan tangan, dia tetap tak sadar keberadaan gua. Tiba-tiba saja
ide muncul saat melihat bocah sd keluar dari salah satu kelas (bukan kelasnya
Ria), gua langsung mengiming-imingin jajanan dan mengantarnya kembali ke kelas
seolah-olah gua adalah sodaranya.
Teh Dina sedikit kaget melihat keberadaan gua. Gua
mengangguk dan tersenyum kearahnya. Setelah si bocah masuk kelas, gua
menghampiri Teh Dina.
“Nganter? Siapa?” Katanya, membuka pembicaraan.
“Oh, iya. Keponakan Teh..”
“Oohh..” Responnya sambil beranjak dari tempat duduk hendak
membeli jajanan.
Gua sih yakin kalo dia cuma ngasih peluang ke gua, semacem
kode minta ditelanjangin. Atau minimal ini settingan Setan.
“Nungguin sampe pulang, Teh?” Tanya gua. Dia gak gak
menjawab, hanya mengangguk. Raut wajahnya tampak risih. Seketika gua bagai
tersambar petir. “Anjir, gua cuma kegeeran nih..” Batin gua.
“Teh..” Sapa gua lagi. Pantang menyerah.
“Iya..” Jawabnya, masih dengan raut wajah risih dan
cenderung was-was. Gua langsung menyodorkan hp dan minta nomor teleponnya.
Dang! Hp gua gak direspon.
Tapi dia malah bilang, “Nomor Mas aja berapa?” sambil
mengeluarkan hpnya dan gua pun pamit duluan setelah memberikan nomor hp.
Gua sih ga yakin dia bakal ngontek gua, tapi atas dasar
positive thinking untuk kelakuan negative, gua menunggu kontak Teh Dina. Tak
sampai satu jam, ada pesan masuk ke hp gua.
“Ada apa ya, Mas? Maaf, saya risih ngobrol ditempat umum.
Takut dikira macem-macem. Dina.”
Hhhuuaaa.. Teh Dina. Macam orang dulu aja ngirim Short
Messages Service. Hehe
“Hehe, kalo gitu saya Teh yang minta maaf. Ga ada apa-apa
Teh, mau kenal aja. Mau ngobrol-ngobrol. Kalo smsan gini masih risih ga, Teh?
Hehe”
“Ya kalo sms gini ga risih. Kan gak ada yang liat. Mau
kenal? Kan udah kenal. Ngobrol kok sama ibu-ibu sih Mas, sama yang masih gadis
aja atuh.”
“Duh, Teh. Kalo sama gadis mah ribet Teh, ambekan. Dikit2
ngambek. Hehe. Teh Dina tiap hari nungguin Ria?”
“Yah Mas, ibu-ibu juga sering ngambek kok. Namanya juga
perempuan. Heee. Iya, tiap hari nungguin. Mas tadi anter anaknya ponakan? Kok
baru liat.”
“Hehe, ngga Teh. Sebenernya cuma alesan buat ketemu Teteh
aja ”
“Hmm. Mas, tolong jangan nelepon saya yah klo saya lagi
dirumah. Takut bapaknya Ria tau nanti malah nyangka macet-macet.”
Pesan terakhir Teh Dina gak gua bales, tapi gua berinisiatif
langsung meneleponnya. Teh Dina terasa begitu segan dan risih saat menerima
telepon gua. Tapi meski begitu, dia juga tak memadamkan percikan untuk digoda.
Gua sebagai lelaki normal yang abnormal tentu saja tak melewatkan peluang
begitu saja.
Gua mencoba membuatnya nyaman berbicara sama gua.
Pelan-pelan Teh Dina mulai ‘biasa’ dan enjoy dalam berbicara. Sesekali dia bercerita
juga bertanya. Nah, kedua hal tersebut adalah koentji sebuah pedekate berhasil
atau tidak.
Akhirnya Teh Dina menyudahi obrolan via telepon itu karena
jam pulang Ria sudah tiba. Gua longok jam tangan, ‘pukul 09:50 WIB’.
Diakhir obrolan gua sempet ngomong, “Kalo lagi suntuk sms
saya aja, Teh. Siapa tau malah tambah suntuk..” seraya tertawa. Teh Dina juga
tertawa lepas saat menutup teleponnya.
Gua pulang kerumah waktu banci pun belum dandan. Pikiran gua
dipenuhi strategi-strategi menelanjangi Teh Dina.
Dan sepertinya, Teh Dina ini memang minta ditelanjangi. Dia
sms gua gak lama setelah gua sampai rumah.
“Tumben Mas jam segini udah pulang? Gak jalan-jalan dulu
sama pacarnya? Lagi marahan ya.. Hehehe”
Gua sempat kaget mendapati sms Teh Dina, karena pas gua liat
sebelum masuk rumah, Teh Dina lagi momong Ria di dekat Mas Muji. Mas Muji
sendiri sedang melayani pembeli yang gak banyak-banyak amat dan gak sedikit
juga.
“Hehe, bisa aja Teteh. Lagi nonton tv apa masih di depan
Teh? Tadi saya lihat kan Teteh di depan.”
“Iya, lagi nonton tv. Udah ga di depan, banyak pembeli. Lagi
sekalian nidurin Ria.”
“Nidurin Ria? Mau juga dong Teh, ditidurin. Ahahaha.
Becanda, Teh. Loh, banyak pembeli kok gak bantuin Mas Muji?”
“Hmm. Untung cuma becanda. Bantuin kok, tapi sambil nonton
tv. Heee.”
“Owgitu..”
Biajingan, gua keabisan ide sampe cuma begitu doang bales
smsnya. ‘Owgitu..’ Sms macam apa itu? Macem lagi wasapan atau bbman aja.
Padahal di sms tersedia 140 karakter. Eh, bener apa ngga ya? Bodo, ah. Haha.
Tapi ditengah keputusasaan balesan sms gua, Teh Dina
memainkan perannya.
“Besok nganter lagi Mas?”
“Nganter, bareng aja Teh.”
“Gak ah. Ngerepotin.”
“Yah, Teh. Timbang gitu aja ngerepotin.”
“Heeeehe. Boleh deh kalo gak ngerepotin.”
“Eh, sebenernya emang ngerepotin sih Teh. Kecuali kalo abis
nganter trus Teteh nungguin Ria-nya diluar sama saya, baru gak ngerepotin.”
“Hmm. Keluar kemana Mas?”
“Gak usah jauh-jauh Teh. Biar jam setengah sepuluh udah
sampe sekolahan lagi. Kemana aja, yang penting bisa ngobrol-ngobrol.”
“Gak ah. Takut ada yang liat Mas.”
“Ya kalo gitu, kita pergi ketempat yang gak ada orang liat.
Hehe.”
“Mas bisa aja. Udahan dulu ya, Mas. Jangan sms lagi.”
Huhu. Yes!
Besoknya, seperti yang sudah dismskan semalem, gua nganter
Ria dan Teh Dina dengan bergaya seolah-olah gak janjian.
Teh Dina sempat bertanya, “Keponakannya mana Mas?” waktu
perjalanan ke sekolah. Tapi gak gua jawab, karena pun dia nanya dengan raut
wajah menggoda. Jiguri.
Setelah sampai sekolahan, Teh Dina mengantar Ria ke kelas.
Gua kemudian meneleponnya, memberitau kalo gua nunggu diseberang jalan utama
sekolahan. Teh Dina hanya membalas dengan suara, “Hmm.. He’em.. Iya. Iya.
He’em..”
Tak sampai 20 menit, Teh Dina sudah masuk ke dalam mobil
yang gua parkir di minimarket. Gua sedang berada di dalam membeli ‘perlengkapan
perang’.
Mobil sengaja menyala dan gak gua kunci, Teh Dina
menjalankan semua perintah gua. Nice.
“Kemana Mas?” Tanya Teh Dina waktu gua baru masuk mobil.
“Kemana ya?” Kata gua sambil memandanginya dari atas sampai
bawah, tanpa ada gangguan sedikitpun. Muka Teh Dina seketika memerah. Kemudian
memalingkan pandangannya.
Teh Dina hanya memakai celana piama. Celana tidur dipadu
dengan daster sedengkul dan jaket. Badannya yang bahenol terlihat dari balik
pakaian yang berbahan lemas itu. Meski jaket blazernya coba menutupi.
Gua mulai nakal dengan menyentuh bagian rusuknya. Teh Dina
reflek bergoyang. Sekali, dua kali, sampai akhirnya Teh Dina menghadap gua,
lalu meraup wajah gua. Seperti sedang menampar, tapi tanpa tenaga.
“Bajingan, berani nyentuh gua nih ibu-ibu..” Batin gua. Gua
pun langsung memanfaatkan dengan memegang tangannya. Teh Dina membeku. Gua
berdebar tak karuan.
“Yang penting, cabut dulu aja Teh dari sini..” Kata gua
kemudian sambil keluar parkiran dan gas pol entah kemana.
Dijalan, gua menimang-nimang tempat tujuan. Teh Dina gak
banyak bicara, cenderung sedikit grogi. Raut wajahnya juga tampak khawatir.
Entah khawatir gua apa-apain atau khawatir perbuatan nekatnya ini ketahuan Mas
Muji.
Di depan gerbang hotel, gua berhenti dan memandang Teh Dina.
Satu, dua, tiga detik, Teh Dina tak kunjung memandang balik. Gua menggoyangkan
jari di lingkaran stir.
Teh Dina memandang balik. Raut wajahnya bukan sekedar
bertanya “Ngapain berhenti didepan hotel?” tapi juga, “..Kalo mau masuk, ya
masuk.”
Gua tersenyum lebar. Teh Dina menghembuskan nafas panjang. Setan
berdendang dijok belakang. Malaikat terbelenggu didalem bagasi.
“Mas ngapain kita kesini?” Tanya Teh Dina saat sudah duduk
dibibir kasur hotel.
“Ngapain ya Teh enaknya? Hehe. Ngobrol aja Teh..” Jawab gua
sambil merebahkan badan dikasur. Teh Dina membelakangi gua.
“Kan, kalo ngobrol disini gak bakal ada yang liat Teh..”
Teh Dina sesekali menengok kebelakang, melihat posisi pewe
gua. “Sini, Teh, nontonnya sambil rebahan. Kaya waktu saya pertama ngeliat
Teteh, kan lagi nonton tv sambil tiduran gini..” Goda gua.
Teh Dina kembali menengok dan tertawa malu. “Saya duduk, sih
waktu itu. Gak tiduran. Dibilangin bapaknya Ria, mau ada yang numpang kamar
mandi.”
Didalam kamar, hampir selama setengah jam, hanya gua
habiskan dengan ngobrol gak jelas. Sama-sama malu. Sama-sama grogi. Tapi lambat
laun, Teh Dina mulai santai dan berkeliling kamar hotel.
Duduk dimeja rias. Ke kamar mandi. Casino Online Buka-buka kulkas dan baca
majalah. Sesekali mendekat ke arah gua untuk bertanya sesuatu yang ada dikamar
hotel. Gua pun justru larut dengan menyia-nyiakan waktu yang ada sambil
glesoran dikasur.
Madep kanan, madep kiri, tungkerep, telentang. Glesoran gak
karuan.
Sampai akhirnya gua bertanya sesuatu, “Eh, Teh. Kok umurnya
bisa beda jauh sih sama Mas Muji?”
Teh Dina yang sedang duduk didepan meja rias sambil baca
majalah kemudian berdiri. Mukanya seketika kesal. “Saya mau balik ke sekolahan,
Mas..” Katanya.
Doh, ngambek!
Teh Dina lalu berjalan menuju pintu, gua langsung beranjak
dari kasur dan menahannya.
Kemudian gua minta maaf kalo ada sesuatu yang menyinggung.
Teh Dina tak bergeming. Gua sedikit menarik tangannya. Yang terjadi kemudian
sungguh diluar perkiraan.
Gua hanya menarik tangannya pelan untuk mendapat
perhatiannya yang sebelumnya enggan memandang gua. Tapi reaksi Teh Dina seperti
baru saja di uppercut Muhammad Ali.
Dia merobohkan badannya yang secara otomatis menimpa badan
gua yang lalu terjatuh dikasur.
Sesaat kami saling pandang. Kedua tangan Teh Dina berada
didada gua, sedikit menopang tubuhnya.
Gua lalu melingkarkan tangan gua dibadannya. Teh Dina tak
bereaksi. Masih memandangi gua. Gua salah tingkah. Muka Teh Dina sedikit
berubah menjadi sangat serius. Sesekali dia memejam.
Kemudian gua meraih kedua tangannya. Badan Teh Dina
sepenuhnya menindih badan gua. Payudaranya yang montok mendarat tepat didada
gua. Muka Teh Dina makin berubah saat gua menggoyangkan badannya. Bibirnya
bergerak-gerak seperti ingin melumat atau berkata sesuatu.
Gua melepaskan jaket blazzernya. Ariel sudah tegangan
tinggi. Kaki Teh Dina lurus diatas gua.
Gua lalu meremas bokongnya agar kakinya terbuka. Dan, yap,
Teh Dina mengangkang diatas gua dengan wajah horny.
Ariel yang sudah tegangan tinggi terasa bersentuh dengan
bagian vagina Teh Dina. Gua menggoyangkan pinggul naik-turun sambil meremas
bokongnya. Sebentar saja, Teh Dina sudah mengikuti irama goyangan.
“Sssstttt..” Desisnya sambil memejamkan mata. Giginya
seperti sedang menggigit sesuatu. Gua makin kencang meremas bokongnya.
Tiap gua remas dan bergoyang, Teh Dina berdesis sambil
mengatur nafas. “Sssssttt..”
Tangan gua masuk ke dalam celana piamanya. Mudah saja buat
gua karena hanya berbahan kolor. Setelah didalam celana, tangan gua gak meremas
bokongnya, tapi langsung menyentuh vaginanya dari atas.
Teh Dina langsung mencengkram wajah dan melumat bibir gua. “Eemmm…”
Desah gua.
Sambil berciuman, saling melahap satu sama lain, gua
menarik-narik kancut Teh Dina. Teh Dina bergeliat sambil menggoyangkan sendiri
pinggulnya. “Sssssttt…hhuuu..” Desahnya kali ini.
Gua lalu mulai meremas payudaranya. Teh Dina memberi ruang
dengan sedikit mengangkat tubuhnya yang berada diatas gua. Sebentar saja, gua
langsung membuka tali branya dan mengangkat daster serta branya.
Payudara montok Teh Dina menggantung diatas wajah gua. Dia
menahan tubuhnya dengan kedua tangan dikasur. Setelah menikmati aroma tubuhnya,
gua mulai mengulum puting payudara Teh Dina.
Dari payudara yang satu, ke yang lain. Secara adil gua kulum
dan remas payudaranya. Teh Dina menggoyangkan badannya saat gua sedang melahap
salah satu payudaranya.
Sambil menjilati putingnya, gua kembali meremas bokongnya.
Teh Dina makin menikmati kebejatannya. Dia membuka celananya
pake satu tangan dengan gerakan yang dinamis, tanpa mengganggu gua yang sedang
melahap payudaranya. “Ssssttt.. Aahh..” Desahnya.
Gua lalu membalikkan badan. Teh Dina telentang sambil
bergeliat saat gua melepas celana. “Dasternya, buka Teh..” Kata gua saat hendak
menjilati vaginanya yang masih tertutup. Teh Dina membuka dasternya dan tapi
kemudian menarik wajah gua dan memberikan ciuman dahsyat. Dia mencium sambil
menyedot.
Gua memasukkan tangan ke dalam kancutnya dan menyentuh
vaginanya. Teh Dina makin melumat bibir gua. Lalu gua memaikan jari dimulut
vaginanya. Basah!
Vagina Teh Dina sudah basah saat gua melepaskan kancutnya,
dan saat hendak menjilati, lagi-lagi dia menarik kepala gua. Gua pun akhirnya
hanya mengocok vaginanya dengan jari sambil menjilati payudaranya. “Aaaahhhh..
Sssttt.. Aaaauuggghh..” Desahnya.
Kemudian gua memasukkan satu lagi jari ke dalam vaginanya.
Teh Dina mengerang sambil mencengkaram leher gua. Gua melepaskan cengkramannya
sambil mempercepat gerakan jari mengocok vaginanya.
Untuk mendapatkan hasil maksimal, gua menegakkan dudukan
badan. Yang tadinya sedikit membungkuk mengulum payudara, menjadi duduk tegap
disamping badan Teh Dina yang bergeliat keenakan.
Pemandangan dari sini adalah yang terbaik saat sesi porplei,
bro.. Haha. You, know lha.
Teh Dina tak dapat menyembunyikan raut wajah malu bercampur
nafsu saat gua sengaja mengocok vagina sambil memperhatikannya. “Enak, Teh..”
Kata gua.
Entah pertanyaan bodoh macam apa itu. Sialnya, itu
pertanyaan yang sering diajukan lelaki saat sedang memberikan nikmat ke wanita
yang sesang dieksekusi.
Teh Dina menutupi wajahnya dengan bantal saat tak kuasa
mendesah. Dia mendesah dibalik bantal. Gua langsung menyingkirkan bantal. Wajah
Teh Dina tampak sudah tak perduli. Dia benar-benar menikmati gerakan jari-jari
gua.
“Aaahhh, aaakkhhh, hhhaaaahhh..” Desahnya sambil meremas
salah satu payudaranya. Payudara yang lain, gua bantu meremas.
Sesaat gua bertanya-tanya. “Ini orang udah punya anak kok
pentilnya masih bagus?” Sambil memilin dan meremas buah dadanya.
Sesekali gua kembali melumat pentil dan payudaranya.
“Aaaakkkhhh…” Desahnya, panjang. Kemudian gua makin cepat mengocok vaginanya.
Teh Dina coba merangkul leher gua, tapi tak bisa karena gua menghindar. Ia lalu
mencengkram sprei kasur dengan kedua tangan yang berada diatas kepalanya.
Melihat pemandangan seperti itu, gua makin semangat mengocok.
Akhirnya Teh Dina memuncratkan cairan dari vaginanya.
Badannya bergeliat tak karuan. Ia menahan gerakannya sambil mengatur nafas.
Teh Dina terkujur lemas dengan badan sedikit miring. Kedua
kakinya menutup vaginanya.
Gua lalu mengeluarkan Ariel dan mendekatkan ke wajahnya. Gua
‘memukul-mukul’ wajah Teh Dina dengan pentungan hansip itu. Lalu mulai
menggerayangi mulutnya. Teh Dina urung membuka mulut, dia tampak sedang masih
mengumpulkan tenaga.
Gua terus berusaha sambil kembali meremas payudaranya. Lalu
membuka kakinya yang menutupi vagina. Teh Dina kembali terlentang dengan posisi
sedikit mengangkang. Gua memberikan sentuhan-sentuhan ringan ke sekujur
badannya.
Kemudian setelah menjilati payudaranya, gua menciumi bagian
pahanya. Posisi gua masih dengan Ariel yang berada di wajah Teh Dina. Gua lalu
merebahkan badan disamping dengan posisi terbalik. 69!
Dengan posisi menyamping, gua mulai melumat vagina Teh Dina.
Dia langsung meremas Ariel. Lalu gua mengangkat badannya menindih badan gua
dalam posisi sempurna 69.
Gua menjilati vagina Teh Dina yang terasa asin. Teh Dina
urung melahap Ariel sampai gua memasukkan satu jari kedalam vaginanya.
“Oouugghh..” Desahnya, lalu melahap Ariel.
Ariel terasa hangat dan basah.
Bokong Teh Dina bergerak-gerak diatas wajah gua. Vaginanya
tepat berada dimulut gua. Sementara Ariel keluar masuk mulutnya.
Teh Dina makin menikmati tugasnya. Sesekali dia menyedot
Ariel dalam-dalam, lalu menjilati dan mengulum bola dragonbol. “Ahhh, enak
teh..” Kata gua. Kali ini bukan pertanyaan, ini pernyataan.
Teh Dina tiba-tiba menegakkan badannya.
Sambil mengocok Ariel, dia merangkak naik dan mengurung
Ariel kedalam vaginanya. Jleb!
“Aahh, Fak!” Respon gua, tak menyangka dia langsung ke topik
utama.
Teh Dina membelakangi gua dengan kedua tangan memegang
sandaran punggung kasur. Ariel terlihat timbul tenggelam dari bokong Teh Dina
yang gua liat dari belakang.
Gua memegang bokong Teh Dina, membantunya bergerak
naik-turun, maju-mundur. “Sssssstttt, mmaaasss… Aaahhhh” Desah desis Teh Dina
yang makin cepat menggenjot.
Lalu gua bangun dari tidur dan memeluk Teh Dina dari
belakang. Sambil meremas payudaranya, gua menciumi punggungnya.
Teh Dina makin beringas, dia merangkul gua dengan posisi
membelakangi. Nikmat sekali. Lalu Teh Dina meminta berciuman, dengan senang
hati gua melayaninya. Kedua tangan Teh Dina yang setengah merangkul leher gua,
membuat ketiaknya tampak menggairahkan. Sesekali gua memberikan kecupan ke
ketiaknya.
Meski tidak harum, tapi juga tidak bau. Yang penting, tidak
ada bulunya!
Badan Teh Dina yang bahenol tak dapat gua tahan lebih lama
berada diatas paha gua.
Gua lalu* memintanya berdiri, dan mengambil posisi doggy
tanpa melepas Ariel yang betah didalam vagina Teh Dina.
Teh Dina berdiri dengan lututnya, masih dengan posisi
membelakangi gua.
Gua sedikit membungkukkan punggungnya, sambil meremas
payudara. Teh Dina bergeliat saat lehernya gua kecup-kecup.
“Keluarin didalem, Teh?” Tanya gua saat bergerak lambat
menikmati ciuman.
“Jangan dikeluarin dulu..” Bisiknya, manja.
Gua kemudian menghadapkan wajahnya kearah jam dinding sambil
melumat bibirnya.
Dia yang paham maksud gua lalu mendorong bokong gua agar
masuk lebih dalam. Gua lalu berakselerasi tingkat tinggi.
“Plak! Plak! Plak!” Suara yang keluar, diikuti desahan Teh Dina,
“Aaakkhhh, aaaaakkhh, Maasss.. Sssttt..”
Togel Singapura Tak butuh lama dari serangan terakhir, Ariel memuntahkan
ludah naga didalam vagina Teh Dina.
“Oouugghhh…” Desah gua, panjang.
Teh Dina langsung membenamkan wajahnya dikasur dengan posisi
nungguing. Tampak sperma gua secara perlahan keluar dari dalam vagina Teh Dina.
“Sssstttt.. Hhhaaaahhh..” Desisnya.
Setelah sepertinya sperma sudah banyak yang keluar, Teh Dina
merobohkan badannya, tidur tungkerep.





Posting Komentar