Situs Togel Online Terpercaya

Cerita Dewasa Tubuh Dina Tetangga Sangat Menarik


Cerita Dewasa Tubuh Dina Tetangga Sangat Menarik



Dina, 30 tahun, adalah seorang ibu rumah tangga dengan 2 orang anak 3 dan 5 tahun. Suaminya, Raka, 38 tahun, adalah karyawan dari salah satu perusahaan swasta besar di Bandung. Perawakan Dina sebetulnya biasa saja seperti kebanyakan. Yang membuatnya menarik adalah bentuk tubuhnya yang sangat terawat. Buah dadanya tidak terlalu besar, tapi enak untuk dipandang, sesuai dengan pinggangnya yang ramping dan pinggulnya yang bulat. Poker Online

Kehidupan rumah tangga mereka sangat harmonis. Dengan 2 anak yang sedang lucu-lucunya, ditambah dengan posisi Raka yang cukup tinggi di perusahaannya, membuat mereka menjadi keluarga yang cukup di hormati di lingkungan kompleks mereka tinggal. Dina pada dasarnya adalah istri yang sangat setia kepada suaminya. Tidak pernah ada niat berkhianat terhadap Raka dalam hati Dina karena dia sangat mencintai suaminya. Tapi ada satu peristiwa yang menjadi awal berubahnya cara berpikir Dina tentang cinta.

Suatu siang, Dina sedang mengasuh anaknya di depan rumah. Dikarenakan kedua anaknya waktu itu berlari jauh dari rumah, maka Dina langsung mengejar mereka. Tapi tanpa disengaja, kakinya menginjak sesuatu sampai akhirnya Dina terjatuh. Lututnya memar, agak mengeluarkan darah. Dina langsung berjongkok dan meringis menahan sakit. Pada waktu itu, Andi, anak tetangga depan rumah Dina kebetulan lewat mau pulang ke rumahnya. Ketika melihat Dina sedang jongkok sambil meringis memegang lututnya, Andi langsung lari ke arah Dina.

“Kenapa Mbak?” tanya Andi.
“Aduh, lutut saya luka karena jatuh, Di…” ujar Dina sambil meringis.
“Bantu saya berdiri, Di…” kata Dina.
“Iya Mbak,” kata Andi sambil memegang tangan Dina dan dibimbingnya bediri.
“Di, tolong bawa anak-anak saya kemari.. Anterin ke rumah saya, ya…” kata Dina.
“Iya Mbak,” kata Andi sambil segera menghampiri anak-anak Dina.

Sementara Dina segera pulang ke rumahnya sambil tertatih-tatih. Waktu Andi mengantarkan anak-anak Dina ke rumahnya, Dina sedang duduk di kursi depan sambil memegangi lututnya.

“Ada obat merah tidak, Mbak?” tanya Andi.
“Ada di dalam, Di,” kata Dina.
“Kita ke dalam saja…” kata Dina lagi sambil bangkit dan tertatih-tatih masuk ke dalam rumah.

Andi dan anak-anaknya mengikuti dari belakang.

“Ma, Dono ngantuk,” kata anaknya kepada Dina.
“Tunggu sebentar ya, Di. Saya mau antar mereka dulu ke kamar. Sudah waktunya anak-anak tidur siang,” kata Dina sambil bangkit dan tertatih-tatih mengantar anak-anaknya ke kamar tidur.

Setelah mengantar mereka tidur, Dina kembali ke tengah rumah.

“Mana obat merahnya, Mbak?” tanya Andi.
“Di atas sana, Di…” kata Dina sambil menunjuk kotak obat.

Andi segera bangkit dan menuju kotak obat untuk mengambil obat merah dan kapas. Tak lama Andi segera kembali dan mulai mengobati lutut Dina.

“Maaf ya, Mbak.. Saya lancang,” kata Andi.
“Tidak apa-apa kok, Di. Mbak senang ada yang menolong,” kata Dina sambil tersenyum.

Andi mulai memegang lutut Dina dan mulai memberikan obat merah pada lukanya.

“Aduh, perih…” kata Dina sambil agak menggerakkan lututnya.

Secara bersamaan rok Dina agak tersingkap sehingga sebagian paha mulusnya nampak di depan mata Andi. Andi terkesiap melihatnya. Tapi Andi pura-pura tak melihatnya. Tapi tetap saja paha mulus Dina menggoda mata Andi untuk melirik walau kadang-kadang. Hati Andi agak berdebar.. Biasanya dia hanya bisa melihat dari kejauhan saja lekuk-lekuk tubuh Dina. Atau kadang-kadang hanya kebetulan saja melihat Dina memakai celana pendek.

Andi biasanya hanya bisa membayangkan saja tubuh Dina sambil onani. Tapi kini, di depan mata sendiri, paha mulus Dina sangat jelas terlihat. Dina sepertinya sadar kalau mata Andi sesekali melirik ke arah pahanya. Segera Dina merapikan duduknya dan juga menutup pahanya. Andi sepertinya terkesima dengan sikap Dina tersebut. Andi menjadi malu sendiri..

“Sudah saya berikan obat merah, Mbak…” kata Andi. Togel Singapura
“Iya, terima kasih,” kata Dina sambil tersenyum.
“Sekarang sudah mulai tidak terasa sakit lagi,” ujar Dina lagi sambil tetap tersenyum.

Andi, 16 tahun, adalah anak tetangga depan rumah Dina. Masih duduk di bangku SMK kelas 1. Seperti kebanyakan anak laki-laki tanggung lainnya, Andi adalah sosok anak laki-laki yang sudah mulai mengalami masa puber.

“Kenapa Loe nunduk terus, Di?” tanya Dina.
“Tidak apa-apa, Mbak…” ujar Andi sambil sekilas menatap mata Dina lalu menunduk lagi sambil tersenyum malu.
“Ayo, ada apa?” tanya Dina lagi sambil tersenyum.
“Anu, Mbak.. Maaf, mungkin tadi sempat marah karena tadi saya sempat melihat secara tidak sengaja…” kata Andi sambil tetap menunduk.
“Lihat apa?” tanya Dina pura-pura tidak mengerti.
“Lihat.. Mm.. Lihat ini Mbak,” kata Andi sambil tangannya mengusap-ngusap pahanya sendiri. Dina tersenyum mendengarnya.
“Tidak apa-apa kok, Di,” kata Dina.
“Kan hanya melihat.. Bukan memegang,” kata Dina lagi sambil tetap tersenyum.
“Lagian, saya tidak keberatan kok Loe melihat paha Mbak tadi,” kata Dina lagi sambil tetap tersenyum.
“Loe kan tadi sedang menolong saya memberikan obat,” kata Dina.
“Benar Mbak tidak marah?” tanya Andi sambil menatap Dina.

Dina menggelengkan kepalanya sambil tetap tersenyum. Andi pun jadi ikut tersenyum.

“Mbak sangat cantik kalau tersenyum,” kata Andi mulai berani.
“Ihh, Loe tuh masih kecil sudah pintar merayu…” kata Dina.
“Saya berkata jujur loh, Mbak,” kata Andi lagi.
“Loe sudah makan, Di?” tanya Dina.
“Belum Mbak. Saya pulang dari rumah teman tadi belum makan,” kata Andi.
“Makan disini saja, ya.. Temani saya makan siang,” ajak Dina.
“Baik Mbak, terima kasih,” kata Andi.

Mereka menikmati makan siang di meja makan bulat kecil. Ketika sedang menikmati makan, tanpa sengaja kaki Andi menyentuh kaki Dina. Andi kaget, lalu segera menarik kakinya.

“Maaf Mbak, saya tidak sengaja,” kata Andi.
“Tidak apa-apa kok, Di…” kata Dina sambil matanya nenatap Andi dengan pandangan yang berbeda.

Ketika kaki Andi menyentuh kakinya, seperti terasa ada sesuatu yang berdesir dari kaki yang tersentuh sampai ke hati. Dina merasakan sesuatu yang lain akan kejadian tak sengaja itu.. Tiba-tiba Dina merasakan ada sesuatu keinginan tertentu muncul yang membuat perasaannya tidak menentu. Sentuhan kaki Andi terasa begitu hangat dan membangkitkan suatu perasaan aneh..

“Loe sudah punya pacar, Di?” tanya Dina sambil menatap Andi.
“Belum Mbak,” kata Andi sambil tersenyum.
“Lagian saya tidak tahu caranya mendapatkan perempuan,” ujar Andi lagi sambil tetap tersenyum. Dina pun ikut tersenyum.
“Pernah tidak Loe punya keinginan tertentu terhadap perempuan?” tanya Dina lagi.
“Keinginan apa Mbak?” tanya Andi. Dina tersenyum.
“Kita habiskan dulu makannya. Nanti kita bicara…” kata Dina.

Selesai makan, mereka duduk-duduk di ruang tengah.

“Loe ada sesuatu yang harus diselesaikan di rumah tidak saat ini?” tanya Dina.
“Tidak ada, Mbak,” kata Andi.
“Tadi Mbak mau tanya apa?” kata Andi penasaran.
“Begini, apakah Loe suka kepada wanita tertentu? Maksud saya suka kepada tubuh wanita?” tanya Dina.
“Kita bicara jujur saja, ya.. Saya tidak akan bicara pada siapa-siapa kok,” kata Dina lagi.
“Loe juga mau kan jaga rahasia pembicaraan kita?” kata Dina lagi.
“Iya, Mbak,” kata Andi.
“Kalau begitu jawablah pertanyaan Mbak tadi…” kata Dina sambil tersenyum.
“Ya, saya suka melihat perempuan yang tubuhnya bagus. Saya juga suka Mbak karena Mbak cantik dan tubuhnya bagus,” kata Andi tanpa ragu.
“Maksudnya tubuh bagus apa,” tanya Dina lagi. Andi agak ragu untuk menjawab.
“Ayolah…” kata Dina sambil memegang tangan Andi. Tangan Andi bergetar.. Dina tersenyum.
“Mm.. Saya pernah.. Pernah lihat majalah Playboy, juga.. Juga.. Juga saya pernah lihat VCD porno.. Mm.. Mm.. Saya lihat banyak perempuan tubuhnya bagus…” kata Andi dengan nafas tersendat.
“Oh, ya? Di VCD itu Loe lihat apa saja,” kata Dina pura-pura tidak tahu, sambil terus menggenggam tangan Andi yang terus gemetar.
“Mm.. Lihat orang sedang begituan…” kata Andi.
“Begituan apa?” tanya Dina lagi.
“Ya, lihat orang sedang bersetubuh…” kata Andi.

Dina kembali tersenyum, tapi dengan nafas yang agak memburu menahan sesuatu di dadanya.

“Loe suka tidak film begitu?” tanya Dina.
“Iya suka, Mbak?” kata Andi sambil menunduk.
“Mau coba seperti di film, tidak?” kata Dina.

Andi diam sambil tetap menunduk. Tangannya makin gemetar. Dina mendekatkan tubuhnya ke tubuh Andi. Wajahnya di dekatkan ke wajah Andi.

“Mau tidak?” tanya Dina setengah berbisik.

Andi tetap diam dan gemetar. Wajahnya agak tertunduk. Dina membelai pipi anak tanggung tersebut. Lalu diciumnya pipi Andi. Andi tetap diam dan makin gemetar. Dina terus menciumi wajah Andi, lalu akhirnya dilumatnya bibir Andi.. Lama-lama Andi mulai terangsang nafsunya. Dengan pasti dibalasnya ciuman Dina.

“Masukkan tangan Loe ke sini…” Casino Online kata Dina dengan nafas memburu sambil memegang tangan Andi dan mengarahkannya ke dalam baju Dina.
“Masukkan tangan Loe ke dalam BH saya, Di.. Pegang buah dada saya,” kata Dina sambil tangannya meremas Penis Andi dari luar celana.

Sementara tangan Andi sudah masuk ke dalam BH Dina dan mulai meremas-remas buah dada Dina.

“Mmhh.. Terus sayang…” kata Dina. Situs Sbobet Terpercaya
“Tangan saya pegal, Mbak…” kata Andi polos.
“Uhh.. Kita pindah ke kamar, yuk…” ajak Dina sambil menarik tangan Andi. Sesampainya di dalam kamar..
“Buka pakaian Loe, Di…” ujar Dina pun melepas seluruh pakaiannya sendiri.
“Iya, Mbak…” kata Andi.

Dina setelah melepas seluruh pakaiannya, segera naik dan telentang di tempat tidur. Andi terkesima melihat tubuh telanjang Dina. Seumur-umur Andi, baru kali ini dia melihat tubuh telanjang wanita di depan mata. Apalagi wanita tersebut adalah wanita yang sering di bayangkannya bila onani. Penis Andi langsung tegang dan tegak..

“Naik sini, Di…” kata Dina.
“Iya, Mbak…” kata Andi.
“Sini naik ke atas tubuh saya…” kata Dina sambil mengangkangkan pahanya.

Andi segera menaiki tubuh telanjang Dina. Dina langsung melumat bibir Andi dan Andi langsung membalasnyanya dengan hebat. Sementara satu tangan Andi meremas buah dada Dina yang tidak terlalu besar. Sementara Penis Andi sesekali mengenai belahan Meki Dina.

“Ohh.. Mmhh.. Terus remas.. Terus…” desah Dina sambil memegang tangan Andi yang sedang meremas buah dadanya, dan tangan mereka bersamaan meremas buah dadanya.
“Ohh.. Sshh…” kata Dina. Andi pun dengan bernafsu terus meremas dan menciumi serta menjilati buah dada Dina.
“Di, jilatin meki Aku, sayang…” pinta Dina.
“Tapi saya tidak tahu caranya, Mbak,” kata Andi polos.

“Sekarang dekatkan saja wajah Loe ke Meki, lalu Loe jilati belahannya…” kata Dina setengah memaksa dengan menekan kepala Andi ke arah Mekinya.

Andi langsung menuruti permintaan Dina. Dijilatinya belahan Meki Dina sampai tubuh Dina mengejang menahan nikmat.

“Ohh.. Mm.. Ohh.. Terus jilat, sayang…” desah Dina sambil meremas kepala Andi.
“Di, Loe jilati bagian atas sini…” kata Dina sambil jarinya mengelus kelentitnya.

Lalu lidah Andi menjilati habis kelentit Dina.. Dina kembali menggelepar merasakan nikmat yang teramat sangat.

“Teruss.. Sshh.. Ohh…” desah Dina sambil badannya semakin mengejang.

Pahanya rapat menjepit kepala Andi. Sementara tangannya semakin menekan kepala Andi ke Mekinya. Tak lama..

“Ohh…” desah Dina panjang. Dina orgasme.
“Sudah, Di.. Naik sini,” kata Dina.

Andi lalu menaiki tubuh Dina. Dina lalu mengelap mulut Andi yang basah oleh cairan Mekinya. Dina tersenyum, lalu mengecup bibir Andi.

“Mau tidak Penis Loe saya hisap,” kata Dina.
“Mau Mbak,” kata Andi bersemangat.
“Bangkitlah.. Sinikan Penis Loe,” kata Dina sambil tangannya meraih Penis Andi yang tegang dan tegak.

Andi lalu mengangkangi wajah Dina. Dina segera mengulum Penis Andi. Tidak hanya itu, Penis Andi lalu dijilat, dihisap, lalu dikocoknya silih berganti. Andi tubuhnya mengejang menahan rasa nikmat yang teramat sangat. Tangannya berpegangan pada pinggiran ranjang.

“Ohh.. Mbake.. Enaakk…” jerit kecil Andi sambil memompa Penisnya di mulut Dina.
“Masukkin ke Meki,ya sayang…” kata Dina setelah dia beberapa lama menghisap Penis Andi.

Andi lalu mengangkangi Dina. Sementara tangan Dina memegang dan membimbing Penis Andi ke lubang Mekinya.

“Ayo tekan sedikit, sayang…” kata Dina.
Andi berusaha menekan Penisnya ke lubang Meki Dina sampai akhirnya.. Bless.. Bless.. Bless.. Penis Andi berhasil masuk dan mulai memompa Meki Dina. Andi merasakan suatu kenikmatan yang tiada tara pada batang Penisnya.

“Bagaimana rasanya, Di?” tanya Dina sambil tersenyum dan menggoyang pantatnya.
“Ohh.. Sangat enakk, tanttee…” kata Andi tersendat sambil memompa Penisnya keluar masuk Meki Dina.

Dina tersenyum.. Setelah beberapa lama memompa Penisnya, tiba-tiba tubuh Andi mengejang. Gerakannya makin cepat. Dina karena sudah mengerti langsung meremas pantat Andi dan menekankannya ke Mekinya. Tak lama.. Crott.. Croott.. Croott.. Croott..

“Ohh.. Hohh…” desah Andi. Tubuhnya lemas dan lunglai di atas tubuh Dina.
“Udah keluar? Bagaimana rasanya?” tanya Mbak Dina sambil memeluk Andi.
“Sangat enak, Mbak…” kata Andi.


Sejak saat itu Andi sering Sekalu mendatangi rumah Mbak Dina bila memang sedang sepi dan minta jatah lagi. Judi Bola Online

Share this:

Posting Komentar

 
Copyright © KUAT SEX BANGET. Designed by OddThemes