Pagi itu
sangat dingin, tapi aku memaksakan diri untuk membuka mataku walaupun
sebenarnya ingin tinggal di tempat tidur di bawah selimut yang tebal. Togel Singapura
“Aku harus
bangun!” hanya itu yang berada di pikiranku sekarang, sehingga akupun bangkit
berdiri menuju ke kamar mandi. Keadaan memang cepat berubah, sebulan yang lalu
aku masih tinggal bersama mama dan papa tiriku, sekarang aku tinggal seorang
diri. Dan secara otomatis aku harus mencari biaya hidup sendiri, karena aku
tidak mau membebani mama dengan biaya hidupku. Untung aku cepat mendapat
pekerjaan yang layak, yang mampu menghidupiku di kota yang cukup mahal ini.
Sebuah perusahaan web design membutuhkanku sebagai asisten dalam bidang
keuangan dan pemasaran.
Hujan
rintik-rintik menemaniku memasuki fairground cebik, salah satu pameran komputer
terbesar di dunia yang berlangsung di sebuah negara terkenal. Perusahaan di
mana aku bekerja menjadi salah satu pemilik stand di pameran ini. Untuk
sementara aku tinggal di sebuah hotel yang lumayan besar dinegara tersebut.
Setelah aku
memarkir mobilku dan mulai melangkah ke pintu masuk, aku mendengar suara yang
tidak asing. Yah, beberapa orang bertampang Asia sedang berbicara Indonesia.
Tidak aku sangka bahwa aku bakal bertemu orang Indonesia di pameran ini, dan
hal itu terjadi di hari pertama. Sekilas aku mendengar bahwa mereka sedang
membicarakan aku.
Seorang yang
berdasi biru berkata ke temannya,
“wah yang
ini pasti blasteran”. Dan mereka pun hanya bisa menebak sambil berbisik.
Aku hanya
tersenyum, sampai di depan pintu masuk salah satu dari mereka membiarkan aku
masuk terlebih dahulu dan secara spontan aku mengucapkan terima kasih dalam
bahasa Indonesia.
Lama dia
terdiam, sampai dia akhirnya mengejarku sambil meminta maaf, dan bermaksud
meminta nomor teleponku. Dengan tertawa aku berkata bahwa aku tidak marah,
karena tidak ada alasan untuk itu. Tetapi aku tidak memberikan langsung nomor
teleponku, aku hanya kasih tau bahwa aku bekerja pada salah satu stand pada
sebuah hall. Hanya sampai di situ pertemuanku dengannya karena aku harus cepat
menuju stand aku.
Kesibukan
cebik yang luar biasa membuatku melupakannya, hingga tiba saat makan siang
ketika pintu kantorku diketuk oleh seorang hostes yang bekerja di stand
tersebut kami yang mengatakan bahwa ada seorang pria yang hendak bertemu
denganku. Dengan sedikit heran aku mempersilakan masuk dan ternyata pria
Indonesia tadi pagi.
Dia
mengulurkan tangan kanannya sambil berkata,
“Rudi!” Dan
saya pun menjawab,
“Mika.” Dia
mengajakku makan siang bersama yang langsung ku tolak karena banyaknya
pekerjaan yang menungguku.
Dan dia pun
mengerti keadaanku. Judi Bola Online
Tak lama
kemudian dia kembali lagi sambil membawa 2 kantong kertas yang berisi makanan.
Dia masuk ke kantor dan memberikannya kepadaku sembari berkata bahwa aku harus
makan. Saat itu hatiku trenyuh, apalagi setelah sekian lama tidak ada orang
yang memerhatikan aku, akhirnya aku menyuruh dia tinggal untuk makan bersamaku
di kantorku. Sekitar 1 jam kami berbincang bincang, dia kembali bertanya
tentang nomor teleponku yang akhirnya aku berikan kepadanya. Dia berjanji akan
menelponku nanti malam setelah pameran tutup.
Setelah
pameran hari pertama berakhir, kami berjanji untuk makan bersama di restoran di
kota. Aku sempat kembali di hotel untuk mandi dan sedikit berdandan. Sekitar
jam delapan malam, pintu kamarku diketuk dengan pelan. Aku pun membuka pintu
itu dan Rudi sudah berdiri di depan pintu. Di lobby menunggu 3 teman Rudi
lainnya. Di restoran kami banyak berbincang bincang, mengenai bisnis dan segala
macam.
Dari situ
akhirnya aku tahu bahwa dia seorang atasan di sebuah kantor di negara Taiwan
dan 3 orang temannya adalah bawahannya. Mereka sangat menyenangkan dan senang
bercanda.
Waktu
berakhir terlalu cepat, sampai tiba waktunya untuk kembali di hotel. Rudi
mengantar teman-temannya terlebih dahulu sebelum dia mengantarku sampai depan
pintu kamar. Sebelum aku masuk ke kamar dia memegang tanganku dan berkata,
“Mika kamu
malam ini terlihat cantik sekali.” Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih dan
memberikan sebuah ciuman di pipinya sebagai ucapan selamat malam.
Keesokan
harinya kami bertemu kembali di tempat parkir dan langsung saling bertegur
sapa. Hanya saat ini Rudi berani mengusap rambutku dan bertanya apakah aku bisa
tidur semalam. Hal seperti ini yang sudah lama ku rindukan, satu sisi hatiku
mengingatkanku kepada papa tiriku sedangkan satu sisi hati yang lain
menginginkan sesuatu yang lebih dari dia. Mungkin dari segi umur, aku sadar
bahwa aku lebih menyukai pria yang matang dan berumur. Aku tidak tahu kenapa.
Pada waktu
makan siang Rudi kembali datang ke stand sambil membawa setangkai mawar yang
langsung diberikan kepadaku. Hatiku pun kembali berbunga dan segera melupakan
sakit kepala yang sebelumnya aku rasakan. Kali ini kami berdua makan siang
berdua di Manchener Halle, di sana cukup ramai karena pengunjung dan karena
musiknya.
Kami
berbincang bincang mengenai hal privat kami, dan anehnya aku merasa dekat
sekali dengan dia. Aku dengan ringan bisa menceritakan semua permasalahanku,
tentang kesepianku, tentang sekolahku, tentang mama dan papa tiriku. Dia hanya
mendengarkan sembari memberi komentar yang melegakan. Dia menyadarkanku bahwa
aku tidak seorang diri di dunia ini yang mempunyai banyak masalah, dan bahwa
masih ada orang lain yang bisa dipercaya.
Aku pun
bertanya tentang dirinya, kemudian dia bercerita bahwa dia pernah bertunangan
dengan seorang gadis yang akhirnya dia tinggalkan. Aku sebenarnya cukup heran,
dengan umurnya yang hampir 30 dan dengan penghasilannya yang lebih dari cukup
serta tampang dan tubuhnya yang menarik kenapa dia belum berkeluarga. Sedangkan
aku tahu pasti untuk ukuran orang Indonesia pasti sudah cukup terlambat.
Kembali tiba
saat untuk berpisah, kami harus kembali ke pekerjaan masing masing.
Sekitar
pukul empat sore Rudi menelponku. Dia mengajakku untuk menyertai dia ke sebuah
stand party. Karena aku juga tidak punya kesibukan lainnya, maka aku langsung
setuju. Pukul enam lebih seperempat Rudi sudah menungguku di depan stand seorang
diri. Aku segera merapikan mejaku, dan sedikit memperbaiki make up ku kemudian
aku keluar menuju ke Rudi. Dia langsung mengambil tasku dan menentengnya sambil
melingkarkan tangannya ke bahuku. Di stand party sudah banyak orang hadir,
bir-bir sudah mulai dihidangkan, brezel dan muffin juga tersedia.
Aku mencari
sebuah stand meja yang kosong sementara Rudi mengambilkan cocktail dan makanan
kecil yang ada. Sembari berdiri kami pun kembali berbincang bincang, semakin
malam kamipun semakin akrab. Karena banyak orang yang hadir, maka kami pun
harus berdiri semakin dekat. Tangannya masih di pinggangku dan aku pun berdiri
di sampingnya sekedar untuk bisa bersandar di dadanya. Sesekali ada orang lain
yang menyapa Rudi, sedangkan karena aku orang baru maka aku tidak mengenal
seorang pun. Diselingi musik kami pun sedikit menari di tempat yang cukup
sempit, terkadang Rudi mencium pipi, atau tengkukku.
Hampir
sepanjang acara kami saling berpelukan, membagi cium, dan belaian. Dalam hatiku
aku sadar bahwa aku menginginkan dirinya. Tapi aku takut untuk jatuh cinta lagi.
Hampir pukul
satu malam, Casino Online Rudi mengajak untuk pulang. Aku pun sudah tidak tahan lagi, mungkin
karena aku terlalu banyak minum. Akhirnya aku harus meninggalkan mobilku di
sana karena sudah tidak mungkin lagi aku untuk menyetir. Rudi mengantarku ke
kamarku, di depan pintu dia hanya menatapku tanpa bicara apa pun. Dari matanya
aku tahu apa yang dia inginkan. Aku tidak menyangkal bahwa aku juga
menginginkan hal yang sama. Aku menarik dirinya ke pelukanku.
Sambil
berciuman dia mendorongku ke kamar sambil menendang pintu hingga tertutup
rapat. Dia mengangkatku sembari berciuman dengan gampangnya, dan aku pun
melingkarkan kedua kakiku ke pinggangnya. Dia meletakkanku ke ranjang sembari
mencoba membuka bajuku. Dia sedikit menemukan kesulitan dalam membuka bajuku,
mungkin karena terlalu rumit. Setelah berhasil membuka baju atasku dia meremas
buah dadaku sambil mencari bibirku. Sambil berciuman dia membelai-belai
vaginaku, sedangkan aku pun mencari penisnya. Tanganku membuka gesper dan
membuka kancing celananya. Aku berusaha untuk melepaskan diri dari tindihannya
dan aku membuka celananya.
Segera aku
menjilat penisnya, mulai dari ujungnya hingga hampir seluruhnya masuk ke dalam
mulutku. Tanganku membelai bijinya sambil sekali-kali aku menyedot penisnya.
Rudi sangat menikmati semuanya itu, dia berusaha untuk mencapai vaginaku, tapi
tidak aku biarkan. Aku ingin supaya dia menikmati semua itu. Tetapi ternyata
Rudi tidak bisa diam saja. Dia menarik kepalaku dan menciumiku dengan kasar,
meletakkan tubuhku kembali di tindihannya. Aku hanya merintih, dan memohon
supaya dia memulai permainan sesungguhnya. Sebelumnya aku menyodorkan kondom
yang tersedia di rak hotel, aku tidak mau menanggung resiko.
Dia pun
segera memakainya dan kemudian mengangkat kedua pahaku ke bahunya, dia pun
memulainya. Aku menikmati setiap gerakannya, sesekali dia mengangkat pantatku
dan memegang pinggangku dan menarik ke arah tubuhnya. Kemudian dia membaringkan
diri karena lelah, aku pun mulai mengambil kendali. Aku duduk di atasnya,
memasukkan penisnya ke vaginaku, sambil aku menciumi dadanya. Sambil berpelukan
kami menyelesaikan semuanya, kami hanya berdiam diri sementara aku masih berada
di atasnya. Seakan kami tidak rela waktu kembali bergulir, hingga tiba saatnya
Rudi untuk pulang ke hotelnya.
Malam Itu
Aku Tidur Dengan Berjuta Mimpi
Keesokan
harinya Rudi sudah di depan pintu kamarku lagi, rambutnya terlihat agak basah
dan tubuhnya wangi sekali. Sementara aku belum selesai berpakaian. Rudi duduk
di sofa sambil melihatku berpakaian dan berkata, “Mika kamu cantik sekali kalau
memakai baju itu.” Padahal saat itu aku belum mengenakan apa-apa, hanya pakaian
dalam saja. Segera aku melemparkan bantal ke arahnya dan dia hanya tertawa.
Selesai berpakaian kami pun segera berangkat. Di mobil kami saling berpegangan
tangan dan kadang-kadang saling mencium. Di bagian belakang mobil dia
menggantungkan beberapa kemeja dan jas serta dasi, dia menjelaskan bahwa itu
persediaan untuk nanti malam karena dia malas pulang malam-malam. Aku hanya
tertawa, sambil menggodanya bahwa dia terlalu banyak berharap.
Menjelang
siang hari aku memberitahu Rudi bahwa aku ada tamu penting dan tidak bisa ikut
makan siang. Dia pun mengerti, dan pukul 2 siang, setelah tamuku pulang dia
langsung masuk membawa kantong makanan dan sebotol air mineral. Dia mengambil
sebuah kursi dan meletakkan di sampingku, mengambil sumpit yang tersedia dan
mulai menyuapiku. Pertama kali aku agak malu, tetapi kemudian aku bahkan duduk
di pangkuannya. Hal ini sangat menyenangkan sekali. Sesekali kami saling berciuman.
Poker
Setelah
makanan habis aku kembali berdiri di depannya, kemudian aku berjongkok. Membuka
kancing celananya dan mencari apa yang aku mau. Rudi hanya menjerit pelan
sewaktu dia tahu apa yang aku lakukan, dia menganggap aku gila, tetapi dia kemudian
menikmati jilatan-jilatanku. Ujung yang paling sensitif aku permainkan dengan
lidahku, dengan sebelah tangan yang mengocok penisnya. Tidak lama kemudian dia
mencapai orgasm, aku membersihkan semua sisa-sisanya dengan tisiu basah. Dia
duduk sambil berbenah, menutup kembali celananya dan memelukku. Sampai dia
sadar bahwa dia harus kembali ke standnya.
Sore harinya
kami hanya ingin cepat cepat kembali ke hotelku. Kami menolak semua undangan
standparty yang ada. Dalam perjalanan pulang kami sempat membeli makanan untuk
makan malam kami. Di hotel kami berendam bersama dengan air hangat, sambil
bertukar cerita dan mimpi. Setelah itu kami makan malam, tak lama kemudian kami
pun sudah berbaring di atas ranjang. Aku hanya meletakkan kepalaku di dadanya
sambil memeluk erat tubuhnya. Tak lama kemudian terdengar dengkuran halus dari
Rudi, dan aku pun ikut terlelap.
Sekitar
pukul 3 pagi aku terbangung karena ada belaian di kepalaku. Rudi membelai
rambut sambil memandangiku. Mengetahui bahwa aku juga sudah bangun dia memulai
untuk mencium bibirku, menarik tubuhku lebih rapat ke tubuhnya. Kami saling
berpanggut dan menggigit, dia meremas buah dada dan vaginaku. Ciumannya
berlanjut ke bawah, ke puntingku, ke perutku dan ke selangkanganku. Rudi
menciumi paha bagian dalamku, kemudian klitorisku yang membuatku bergetar
hebat. Aku menekan kakiku di punggungnya, menarik rambutnya dan mengerang.
Sampai
saatnya Rudi berdiri dan memakai kondom, kemudian membuka kedua kakiku. Dia
memasukkan penisnya dengan pelan seakan takut melukaiku. Aku hanya bisa
memejamkan mataku dan menunggu. Permainan kami telah membuat malam itu menjadi
indah, segalanya terjadi dengan otomatis, kami mendapatkan apa yang kami
inginkan. Hanya tinggal sisa waktu untuk tidur dengan perasaan puas.
Tak terasa
hari ini adalah hari terakhir pameran. Sudah 5 hari aku melewatkan hariku
bersama Rudi. Aku tidak percaya bahwa hari ini adalah hari terakhir buat kami,
karena aku harus check out siang hari ini dan Rudi pulang ke Taiwan keesokan
harinya. Sepanjang perjalanan ke fairground kami hanya berdiam diri, hingga di
tempat parkir. Rudi mengeluarkan kartu namanya dan beberapa nomor telepon
pribadinya. Dia mengharap bahwa hubungan kami tetap berlanjut, dan dia juga
mengundangku untuk mengunjunginya di Taiwan. Berat rasa hati mendengar semuanya
itu. Kalau waktu bisa berhenti berputar, membiarkan aku bersama Rudi tetap
bersama.
Aku tidak
percaya bahwa ternyata aku masih bisa untuk jatuh cinta, ya aku jatuh cinta
kepada Rudi. Aku tidak pernah mengungkapkan hal itu kepadanya karena aku tidak
yakin akan perasaanku saat itu. Kini aku sadar bahwa aku jatuh cinta. Rudi
menarik kepalaku ke dadanya, sambil mengeringkan air mataku. Berbisik dia
mengucapkan rasa cintanya kepadaku, bahwa dia mengharapkan aku pun begitu. Aku
hanya bisa mengangguk pelan tanpa jawaban. Padahal hatiku menjeritkan kata
cinta kepadanya, mungkin aku terlalu sombong untuk mengungkapkan, atau aku
terlalu takut?
Hari ini
sudah hampir 2 minggu sejak cebit berakhir. Rudi masih rajin menelponku, dan
aku pun selalu menunggu telepon darinya. Tetapi aku tidak mau menaruh banyak
harapanku kepada dia. Biarkan waktu yang membuktikan bahwa kami memang
berjodoh. Poker Online





Posting Komentar